Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
Showing posts with label Ahlu Sunah. Show all posts
Showing posts with label Ahlu Sunah. Show all posts

Monday, 15 September 2014

Inilah Aqidah Salafi (Wahhabi)


Dalam, menguatkan dalil aqidah abal-abal wahhabi yaitu Alloh menetap Dan duduk di Atas arsy, mereka menggunakan hadits nuzul sebagai dalil. Ibnu Qoyim, Sowa'iq mursalah 27/45
ومما يؤكد أن الله مستو على عرشه دون الأشياء كلها ما نقله أهل الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من أحاديث النزول كقوله ينزل ربنا كل ليلة إلى سماء الدنيا
Artinya: Dalil Yang menguatkan bahwa Alloh mustawin di Atas arsy, Bukan iB Segala sesuatu adalah hadits diriwayatkan Yang Diposkan Ahli RIWAYAT Bahasa Dari Rosul SAW yaitu tentang hadits nuzul seperti sabda Nabi setiap pelelehan malam Tuhan kitd turun-Ke Langit Dunia.
Ketika ditanya mengenai siapa Yang turun-, Utsaimin menjawab bahwa Yang turun-adalah Zat Alloh. Utsaimin, Majmu 'Fatawa Wa Rosail, 1/207
(100) وسئل: هل الذي ينزل هو الله عز وجل أو لا? فأجاب بقوله: ذكرنا فيما سبق أن الذي ينزل هو الله نفسه
Artinya: Sebagaimana Yang SAYA sebutkan bahwa sesungguhnya Yang turun-adalah Zat Alloh.

Apa Makna Nuzul?
Dalam, Arsip fatwa Arabiyah Yang dikodifikasikan Dalam, Buku berjudul Fatawa Syabakah Islamiyah 7/648 Soal Ke 67,214 tertulis jawaban Atas pertanyaan makna nuzul sebagai berikut:
[السؤال] [أريد معرفة معنى التنزيل وأشكركم جزيل الشكر.]
[الفتوى] فإن التنزيل مصدر من نزل الشيء ينزله إذا نقله من أعلى إلى أسفل ,
Artinya:
(Pertanyaan) SAYA menghendaki untuk mengetahui makna tanzil Dan SAYA Ulasan Sangat berterimakasih kepada Kalian.
(Fatwa) Sesungguhnya tanzil merupakan masdar (gerund) Bahasa Dari nazala sya'ai (sesuatu turun-) zanziluhu apabila sesuatu ITU berpindah bahasa Dari Atas kebawah.

KESIMPULAN:
Ibnu Qoyyim berkata: dalil Yang memperkuat bahwa Alloh menetap Dan duduk di Atas arsy adalah hadits nuzul (Sowa'iq mursalah 27/45). Utsaimin berkata: Yang turun-adalah sas Alloh (Majmu 'Fatawa Wa Rosail, 1/207). Dalam, Arsip fatwa ulama arab disebutkan bahwa makna nuzul adalah berpindah bahasa Dari Atas Ke Bawah. (Fatawa Islamiyah 7/648 Syabakah Soal Ke 67,214)
Jadi * Menurut wahhabi Zat Alloh menetap Dan duduk di Atas arsy kemudian iB sepertiga pelelehan malam Zat Alloh lalai pintu gerbang bahasa Dari Atas Langit Ke arsy Dunia. Pertanyaannya: SAAT inisial ADA Bagian tidak Bumi Yang Tanggal Gabung mengalami sepertiga pelelehan malam. SAAT inisial dimanakah Alloh berada?
Wahabi: Andari jangan membayangkan kaifiyah nuzul Alloh.
Qosim: SAYA regular tidak membayangkan kaifiyah nuzul Alloh melainkan SAYA memahami makna nuzul. Apakah memahami makna nuzul juga regular tidak boleh?
Wahabi: boleh
Qosim: jika begitu Jawab pertanyaan Saya.
Wahabi: Zat Alloh turun-Ke Langit Dunia, Bukan berarti Zat Alloh regular tidak berada di Atas arsy.
Qosim: ITU artinya makna nuzul Bukan seperti Yang Dalam, disebutkan Arsip fatwa ulama arab yaitu berpindah bahasa Dari Atas Ke Bawah. Jika demikian, Maka pendapat Ibnu Qoyyim Dan Utsaimin adalah salat.
Wahabi: setahu SAYA Zat Alloh menetap Dan duduk di Atas arsy Dan iB sepertiga pelelehan malam Zat Alloh turun-Ke Langit Dunia.
Qosim: SAAT inisial ADA Bagian tidak Bumi Yang mengalami sepertiga pelelehan malam. Apakah Zat Alloh menetap Dan duduk di Atas arsy sekaligus turun-Ke Langit Dunia?
Wahabi: wali Saja Bisa berada di doa TEMPAT Dalam, Satu waktu. Tentu Saja Alloh juga Bisa seperti ITU.
Qosim: Sekarang jelas sudah bahwa nama dan Kembali telah menyerupakan Kholiq Artikel Baru mahluk. Andari menyerupakan sas Alloh Artikel Baru wali. Maka regular tidak salat jika SAYA menyebut nama dan Kembali sebagai kaum mujasimah.
Saya akan mengahiri dialog setelah kesimpulan berikut:
Menurut anda, dalam satu waktu Alloh bisa berada di dua tempat; di atas arsy dan di langit dunia. Dengan demikian, apakah saat ini anda akan berkata bahwa Zat Alloh ada dua? Satu di atas Arsy dan yang satunya lagi di langit dunia?
Ada tiga opsi jawaban yang harus anda pilih: iya, atau tidak dan atau tafwidh makna.
Jika anda menjawab “IYA”, berarti anda MUSYRIK. Sebab anda meyakini adanya dua zat Alloh. Yang satu menetap dan duduk di atas arsy dan yang satu lagi turun ke langit dunia.
Jika anda menjawab “TIDAK” berarti anda MUJASIMAH. Sebab anda meyakini bahwa dalam satu waktu Zat Alloh bisa berada di dua tempat seperti wali.

Jika anda tidak menjawab “IYA” maupun “TIDAK” berarti anda melakukan tafwidh makna. Jika itu anda lakukan berarti anda telah keluar dari aqidah wahhabi. Sebab, wahhabi menolak tafwidh makna. Maka saya katakan: “UDKHUL FI AQIDAH ASY’ARIYAH BISSALAM.”

Friday, 7 February 2014

Bid'ah

Bid’ah
Oleh : Qosim Ibn 'Aly
Ma'had Darut Tauhid, Kedungsari, Purworejo, Jawa Tengah


Kesalahan mendasar bagi orang yang menolak pembagian bid’ah yang tersebar pada orang-orang wahhabi adalah pada kenyataannya mereka sendiri tidak menolak pembagian bid’ah. Mereka tidaklah menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah agama dan bid’ah dunia. Mereka juga tidak menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah haqiqi dan bid’ah idhofi.
Namun mereka menganggap bahwa pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah tidak boleh. Mereka secara diam-diam berhayal bahwa pembagian ini dilakukan terhadap bid’ah secara syar’i. Dari hayalan inilah kemudian mereka menuduh ulama yang membagi bid’ah sebagai penentang sabda Nabi.
Kita bertanya-tanya, jika bid’ah tidak boleh dibagi, mengapa mereka nekat membagi bid’ah juga? Jika membagi bid’ah merupakan sebentuk penentangan terhadap sabda Nabi, mengapa mereka masih tetap menentang sabda tersebut?
Bagaimanapun juga, penolakan terhadap pembagian bid’ah serta pengingkaran terhadap konsep bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah merupakan kesalahan yang lazim terjadi dikalangan wahhabi.
Kesalahan tersebut disebabkan oleh fanatisme tingkat tinggi yang dipertahankan menggunakan ketidak tahuan –kalau tidak boleh dikatakan kebodohan- terhadap cara memahami bid’ah hingga terlahir konsep pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.
Ketidak tahuan itu diperparah dengan adanya doktrin yang merekat erat dalam hati orang-orang wahhabi bahwa mereka adalah para mutabi’ –kalau tidak boleh disebut muqolid- salaf yang menebar sunah dan memerangi bid’ah.
Doktrin busuk ini mempengaruhi pikiran mereka hingga menciptakan persepsi salah yang dikumandangkan menggunakan mulut-mulut bid’ah mereka bahwa mereka adalah ahlu sunah sedangkan yang tidak sejalan dengan mereka adalah ahlu bid’ah.

1. Kesepakatan

Saya persilahkan anda untuk membaca semua buku yang membahas tentang bid’ah. Saya pastikan kepada anda bahwa semua ulama sepakat atas keshohihan hadits Kullu bid’ah dholalah. Dalam sebuah hadits Rosululloh SAW pernah bersabda:
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Artinya: “Setiap bid’ah adalah sesat.”
Refrensi: Sunan Kabir, 3/206 (5963), 3/213 (6008), 3/214 (6010). Jami’ul Ushul 1/278 (67), 5/679 (3974). Muslim 2/592 (867). Kanzul Umal 1/173 (874), Musnad Ahmad 22/237 (14334), Abu Dawud 4/329 (4609), Musnad Abi Ya’la 2/418 (2111). An-Nasa’i 2/308 (1799). Shohih Ibn Khuzaimah 3/143 (1785). Ibn Majjah 1/30 (45). Al-Mustadrok 1/97 (332), Ibn Hibban 1/179. Musnad Daromi 1/289 (212). Jami’ Shoghir Li Suyuthi 1/224 (1602). Mu’jam Kabir 1/ 2 (3). Faidhul Qodir Li Manawi 1/306. Fathul Bari 4/347. Ibanah Kubro 1/336 (298) dan lain-lain.
Semua orang tahu bahwa Rosululloh SAW menegaskan “Setiap bid’ah adalah sesat.” Namun siapa yang tahu penjelasan beliau mengenai bid’ah? Adakah hadits yang menjelaskan bahwa bid’ah secara bahasa adalah begini…. Sedangkan bid’ah secara istilah adalah begini….
Tidak ada satupun hadits yang menjelaskan pengertian bid’ah. Mari kita tanya sahabat Nabi. Barang kali ada yang menjelaskannya. Ibn Umar RA berkata:
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
Artinya: “Setiap bid’ah adalah sesat sekalipun manusia melihatnya bagus.”
Refrensi: Al-Barohin Ala Ala Bid’ah Hasanah Fiddin 1/12, Al-Ibanah Al-Kubro 1/339, Fathul Qowi Al-Matin 1/98, Syarah Sunan Abu Dawud 1/ 2, Takhrijul Ahadits Ihya’ Ulumiddin 1/223, Itba’ Walabtida’ 1/17, Al-Ba’its Ala Inkaril Bida’ 1/17, Ahadits Fi Dzamil Kalam Wa Ahlihi, 2/126, I’tiqodu Ahli Sunah 1/92, Kitabut Tamasuk Bissunan 1/22, dan lain-lain.
Semua orang tahu bahwa Ibn Umar mengatakan hal itu. Namun siapa yang tahu penjelasan beliau mengenai bid’ah? Apakah beliau pernah menjelaskan bahwa bid’ah secara bahasa adalah begini…. Sedangkan bid’ah secara istilah adalah begini….
Tidak ada satupun riwayat dari beliau yang menjelaskan bid’ah. Mari kita tanya sahabat Nabi yang lain. Barang kali ada yang menjelaskannya. Abdulloh Bin Mas’ud berkata:
اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم وكل بدعة ضلاله
Artinya: “Ikutilah dan jangan membuat bid’ah maka kalian akan tercukupi. Dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Semua orang tahu bahwa Ibn Mas’ud mengatakan hal itu. Namun siapa yang tahu penjelasan beliau mengenai bid’ah? Apakah beliau pernah menjelaskan bahwa bid’ah secara bahasa adalah begini…. Sedangkan bid’ah secara istilah adalah begini….

2. Penjelasan Ulama

Menyadari bahwa Nabi dan para sahabat Nabi tidak menjelaskan pengertian bid’ah yang dikehendaki sebagai bid’ah yang sesat, maka selanjutnya para ulama menjelaskan maksud hadits dan ucapan para sahabat itu. Mereka menjelaskan pengertian bid’ah secara lighowi dan bid’ah secara syar’i.
Bid’ah secara lughowi adalah setiap hal baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Sedangkan bid’ah secara syar’i adalah setiap amalan baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Hadits, dan ijma’.
Refrensi: (DR. Ali Bin Nashir As-Salafi Al-Wahhabi, Al-Bid’ah Dhowabithuha Wa Atsaruha As-Sayyi’ Hlm. 8, Sholih Bin Abdul Aziz, Assunah Walbid’ah hlm. 6, Abu Mu’adz, Al-Barohin Ala Ala Bid’ah Fiddin, hlm. 29, Muhammad Bin Husain, Qowa’idu Ma’rifatil Bida’ hlm. 4, Abdulloh Bin Abdul Aziz Bin Ahmad, Al-Bida’ Al-Hauliyah hlm 10)
 Nabi dan Sahabat tidak pernah menjelaskan pengertian bid’ah secara lughowi dan secara syar’i, apakah kemudian anda akan menyebut penjelasan tentang pengertian bid’ah sebagai bid’ah yang sesat?
Tentu saja anda akan mengatakan bahwa penjelasan itu bukan bid’ah yang sesat sekalipun Nabi dan sahabat beliau tidak pernah menjelaskannya. Itu artinya, tidak semua perkara yang tidak dijelaskan oleh Nabi dan sahabat sebagai perkara yang sesat. Karenanya kita boleh mengikuti penjelasan ulama terkait pengertian bid’ah.

3. Cara Memahami Bid’ah
Dari pengertian bid’ah yang dijelaskan oleh ulama di atas, maka bid’ah dapat dipahami dari duasegi. Pertama, segi lughowi. Kedua, segi syar’i.
Seluruh ulama sepakat bahwa bid’ah dilihat dari segi syar’i, semua secara keseluruhan adalah sesat dan tidak boleh diamalkan. Hanya saja mereka berbeda dalam menamai bid’ah tersebut. Ada yang hanya menyebutnya sebagai bid’ah. Ada yang menyebutnya sebagai bid’ah madzmumah. Ada yang menyebutnya sebagai bid’ah haqiqi dan ada yang menyebutnya sebagai bid’ah sayyi’ah.
Sementara bid’ah dilihat dari segi lughowi memiliki dua criteria; bid’ah yang sejalan dengan syari’at dan bid’ah yang bertentangan dengan syari’at.
a. Bid’ah Yang Sejalan Dengan Syari’at
Maksud bid’ah yang sejalan dengan syariat adalah setiap amalan yang tidak ada contoh sebelumnya dari Nabi, sahabat dan ulama salaf  tetapi amalan tersebut berada di bawah naungan syariat atau dengan kata lain berada dalam keumuman suatu dalil.
b. Bid’ah Yang Bertentangan Dengan Syari’at
Maksudnya bid’ah yang bertentangan dengan syariat adalah setiap amalan baru yang mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh syari’at atau menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh syari’at.

4. Perbedaan Dalam Memberi Nama.

Seluruh ulama sepakat bahwa bid’ah dengan criteria pertama, boleh dilakukan dan tidak sesat. Hanya saja mereka berbeda dalam menamainya. Imam Malik tidak menyebutnya sebagai bid’ah. Imam Syafi’i menyebutnya sebagai bid’ah Mahmudah. Ibn Hajar menyebutnya sebagai bid’ah hasanah. Syatibi menyebutnya sebagai bid’ah idhofi.
Seluruh ulama juga sepakat bahwa bid’ah dengan criteria kedua, tidak boleh dilakukan dan sesat. Hanya saja mereka berbeda dalam menamainya. Imam Malik menyebutnya sebagai bid’ah tanpa memberi qoyyid. Imam Syafi’i menyebutnya sebagai bid’ah madzmumah. Ibn Hajar menyebutnya sebagai bid’ah sayyiah. Syatibi menyebutnya sebagai bid’ah haqiqi.
Dari sinilah konsep pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah terbentuk. Terbentuknya konsep tersebut didasari analisa terhadap pengertian bid’ah secara lughowi.

Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki dalam kitab Minhajus Salaf Fi Fahmin Nushsush Bainan Nazhriyah Watathbiq menukil penjelasan ulama ahlu sunah waljamaah terkait masalah ini kemudian beliau membuat kesimpulan bahwa pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah adalah pembagian secara lughowi. Pada halam 352 beliau berkata:
وبهذا البيان يظهر لنا أن تقسيم البدعة والمحدث إلى حسن وسيئ هو تقسيم لهما بإلإطلاق اللغوي لا شرعي .
Artinya: “Dengan penjelasan ini jelas bagi kami bahwa pembagian bid’ah dan hal baru menjadi hasan dan sayyi’ adalah merupakan pembagian secara lughowi. Bukan secara syar’i.”

5. Persepsi Yang Salah

Perbedaan penamaan dikalangan ulama terhadap bid’ah yang bertentangan dengan syariat sama sekali tidak menghilangkan subtansi kesepakat atas dibolehkannya melakukan amalan bid’ah yang sejalan dengan syariat.
Akan tetapi para ulama wahhabi melakukan tadlis (pengkaburan) untuk menipu umat islam dengan menggunakan hayalan mereka agar umat islam terjebak dalam pemikiran wahhabi yang super cupet, sangat kerdil dan kaku itu. Mereka berhayal bahwa pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah dilakukan terhadap bid’ah dilihat dari segi syariat.
Persepsi yang salah dari ulama wahhabi inilah yang menyebabkan perdebatan tidak kunjung usai selama ratusan tahun hingga melahirkan ratusan buku dan ribuan artikel yang isinya hanya muter-muter.
Untuk menutupi tadlis dan penipuan tersebut, mereka menggunakan sabda nabi, kalam sahabat beliau dan ucapan ulama salaf bahwa mereka semua mengatakan kullu bid’ah dholalah.
Orang-orang bodoh dan gebleg yang tidak mengerti bagaimana cara ulama memahami bid’ah serta tidak tahu bagaimana konsep pembagian bid’ah, dengan mudah tertipu dan terjebak dalam tadlis dan penipuan yang dilakukan oleh ulama wahhabi itu.


Dengan berdasarkan pada kebodohan dan kegeblegan itu, mereka membuat statemen lucu dan pertanyaan retorika. Mereka berkata: “Kami tidak mengikuti ulama. Kami hanya mengikuti Nabi. Nabi mengatakan setiap bid’ah adalah sesat. Sedangkan ulama malah mengatakan tidak semua bid’ah itu sesat. Apakah kalian akan meninggalkan ucapan Nabi yang maksum dan lebih memilih ucapan ulama yang tidak maksum?”
Kepada mereka saya katakan: “Memang Nabi adalah manusia maksum sedangkan ulama tidak maksum. Hanya saja, ulama yang tidak maksum itu berusaha menjelaskan maksud ucapan nabi yang maksum. Karenanya saya mengikuti ulama. Sebab Alloh dan Rosul-Nya memerintah umat islam agar mengikuti ulama.
Sekarang saya mau tanya, jika ada amalan yang tidak ada contoh sebelumnya namun amalan tersebut sesuai dengan syariat dilihat dari keumuman suatu dalil, maka apakah nabi pernah mengatakan bahwa amalan tersebut adalah bid’ah yang sesat? Jika pernah, silahkan kalian tunjukan riwayatnya.
Jika anda tidak bisa menjawab pertanyaan saya lengkap dengan haditsnya, maka saya mau tanya mengapa kalian mengikuti ulama yang memiliki persepsi salah terkait pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sayyiah bahwa pembagian tersebut dilakukan terhadap bid’ah secara syar’i? Bukankah kalian telah membuat statemen bahwa kalian hanya mengikuti Nabi dan tidak mengikuti ulama?

Tuesday, 4 February 2014

Takwil Itu Batil, Benarkah?


Ta’wil secara bahasa bermakna ar-ruju’ (kembali). Secara istilah dimaknai sebagai pengalihan makna zhohir suatu lafal ke makna yang lain. Wahhabi menyebutnya sebagai distorsi (tahrif). Menurut mereka mentakwil sifat Alloh berarti menafikan sifat yang ditakwili. DR. Safar Bin Abdir Rohman Al-Wahhabi dalam buku Minhajul Asya’iroh Fil Aqidah 1/27, berkata:
ومعناه المبتدع صرف اللفظ عن ظاهره الراجح إلى احتمال مرجوح لقرينة فهو بهذا المعنى تحريف للكلام عن مواضعه
Artinya: “Makna takwil yang bid’ah adalah mengalihkan zhohir lafal yang rojih ke makna lain sebab ada indikasi. Takwil dengan makna yang seperti ini adalah merupakan distorsi terhadap tujuan kalimat.”
Tanggapan:
Sebenarnya ulama asy’ariyah telah menjelaskan masalah ini. Dalam memahami nash tentang sifat Alloh yang secara zhohir serupa dengan mahluk, ahlu sunah waljama’ah memiliki dua metode, yakni tafwidh dan takwil. Kebanyakan ulama salaf melakukan tafwidh namun ada sebagian yang melakukan ta’wil. Sementara ulama mutaakhir, banyak yang melakukan ta’wil sekalipun masih ada yang melakukan tafwidh.
Dua metode tersebut menjadi manhaj Asy’ariyah dalam memahami sifat Alloh yang secara zohir serupa dengan mahluk. DR. Umar Abdulloh Kamil dalam kitab Kafa Tafriqon Lil Umah Bismissalaf hlm. 46, menukil ucapan Imam Ar-Rozi sebagai berikut:
وحمل الظواهر النقلية إما علي التأويل وإما علي تفويض علمها إلي الله سبحانه وتعالى وهو الحق
Artinya: “Menanggapi zhohir dalil naqli ada kalanya menggunakan ta’wil dan adakalanya  menyerahkan pengetahuannya kepada Alloh SAW dan inilah yang benar.”
Hasan Al-Bana, tokoh pembaharu mesir yang disanjung-sanjung oleh wahhabi, dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 2/243, juga menyetujui dua metode itu sekalipun ia lebih memilih tafwidh.
Hal senada juga disampaikan oleh Al-Imam Muhammad Bin Ali Asy-Syaukani. Salah satu ulama yang diyakini oleh wahhabi sebagai pengikut salaf ini, mengatakan:
الفصل الثانى فيما يدخله التأويل وهو قسمان أحدهما أغلب الفروع ولاخلاف في ذلك . والثانى الأصول كالعقائد وأصول الديانات وصفات البارى وجل  وقداختلفوا في هذا القسم علي ثلاثة مذاهب : الأول أنه لامدخل للتأويل فيها بل تجرى علي ظاهرها ولا يؤول شيء منها وهذا قول المشبهة والثانى أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه مع تنزيه اعتقادناعن التشبيه والتعطيل لقوله تعالى (وما يعلم تأويله إلا الله ) قال ابن برهان وهذا قول السلف . والمذهب الثالث أنها مؤولة قال ابن برهان والأول من هذه المذاهب باطل والأخران منقولان عن الصحابة ونقل هذا المذهب الثالث عن علي وابن مسعود وابن عباس وأم سلمة
Artinya: “Bagian kedua tentang teks yang dapat dita’wil yaitu ada dua bagian. Pertama, teks yang berkaitan dengan furu’ yang sebagian besar memang dita’wil dan hal ini tidak diperselisihkan oleh kalangan ulama. Kedua, teks-teks yang berkaitan dengan ushul seperti aqidah dasar-dasar agama dan sifat-sifat Alloh.  Para pakar berbeda pendapat mengenai bagian kedua ini menjadi tiga aliran.
Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa teks-teks tersebut tidak boleh dita’wil tetapi diperlakukan sesuai dengan pengertian literalnya dan tidak boleh melakukan ta’wil apapun terhadapnya. Mereka adalah aliran musyabihah (Aliran yang menyerupakan Alloh dengan mahluknya).
Kedua, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut boleh dita’wil tetapi kami menghindar untuk melakukannya serta mensucikan keyakinan kami dari menyerupakan (Alloh dengan mahluknya) dan menafikan (sifat-sifat yang ada dalam teks tersebut). Karena firman Alloh “tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Alloh.” Ibn Burhan berkata: ini adalah pendapat ulama salaf.
Ketiga, kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut harus dita’wil. Ibn Burhan berkata: madzhab yang pertama dari ketiga madzhab ini adalah pendapat yang BATIL. Sedangkan dua madzhab yang terahir dinukil dari sahabat Nabi SAW bahkan madzhab yang ketiga ini diriwayatkan dari Sayyidina Ali, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas dan Umu salamah.” (Irsyad Al-Fuhul Ila Tahqiq Min ‘Ilmil Ushul, hlm. 176)
Tampaknya fanatisme yang melekat erat dalam diri wahhabi telah begitu rekat sehingga mereka tidak mau menerima penjelasan yang dilengkapi dengan bukti tersebut. Alih-alih menerima, mereka malah menuduh ulama asy’ariyah melakukan kebohongan dan mengatakan bahwa takwil tidak bisa dinisbatkan kepada ahlu sunah.
Bin Baz, ketua mufti Saudi dalam Majmu’ Fatawa Bin Baz 3/74, berkata:
ولا يجوز أن ينسب التأويل إلى أهل السنة
Artinya: “Takwil tidak boleh dinisbatkan kepada Ahlu sunah.”
Namun ironisnya wahhabi sendiri melakukan ta’wil. Hanya saja mereka gengsi untuk menyebutnya sebagai ta’wil. Dalam kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 3/234 mereka melakukan takwil terhadap sifat-sifat Alloh seperti sifat ‘Ain dalam surat Al-Qomar : 14, Thoha : 29, Ath-Thur: 48.
قوله سبحانه : { تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا }و{ وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي }و{ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا } ..... وإنما المراد بذلك أن السفينة تجري برعاية الله وعنايته وتسخيره لها وحفظه لها , وأن محمدا صلى الله عليه وسلم تحت رعاية مولاه وعنايته وحفظه وكلاءته , وهكذا قوله في حق موسى : { وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي } أي تحت رعايتي وحفظي
Artinya: “Adapun firman Alloh “Tajri bi A’yunina” (Al-Qomar:14), “Walitusna’a ‘ala ‘aini” (Thoha : 29), dan “Wasbir lihukmi Robbika Fa innaka Bi A’yunina” (Ath-thur: 48) … sesungguhnya yang dikehendaki adalah bahwa perahu berjalan dengan pengawasan Alloh, penaklukan Alloh dan penjagaan Alloh terhadap perahu tersebut. Dan sesungguhnya Muhammad berada dibawah pengawasan, penjagaan dan bimbingan Alloh. Demikian juga mengenai hak Musa (dalam ayat) “Walitusna’a ‘ala ‘aini” maksudnya adalah pengawasan dan penjagaan Ku.”
Jika kita mengikuti fatwa Bin Baz atau mengikuti fatwa DR. Safar, maka seluruh wahhabi harus mengakui bahwa mereka bukan ahlu sunah dan jago distorsi. Sebab mereka telah mengalihkan makna zhohir sifat Alloh ke makna lain.
Untuk mengatasi masalah tersebut, wahhabi akan mengeluarkan jurus andalan mereka, yakni ngeles. Mereka akan berkata: “apa yang kami lakukan itu bukan takwil, melainkan tafsir” atau akan berkata “kami tidak mengalihkan makna zhohir kalimat tersebut sebab ‘ain dalam ayat-ayat di atas secara zhohir bermakna ri’ayah dan hifz.”
Padahal semua orang tahu bahwa makna ‘ain (mata-red) secara zohir adalah sesuatu yang berbentuk bulat yang terdiri dari beberapa elemen seperti lensa mata, kornea dan pupil. Ketika ‘ain dimaknai sebagai pengawasan dan penjagaan, maka pemaknaan ini merupakan pengalihan makna zhohir ke makna lain. Dan inilah yang disebut sebagai ta’wil.

Raksek memang. Apabila pengalihan makna dilakukan oleh asy’ariyah maka wahhabi menyebutnya sebagai distorsi dan menuduh asy’ariyah telah menafikan sifat Alloh. Namun jika yang melakukannya mereka sendiri, maka mereka menyebutnya sebagai tafsir dan penjelasan. Wa ya Subhanalloh. Ajiiiib!!! 

Asy’ariyah Menafikan Sebagian Sifat Alloh, Benarkah?


Muhammad Bin Kholifah Al-Wahhabi, dalam kitab Maqolatut Ta’thil 1/25, berkata:
وأما الأشاعرة المتأخرون ومعهم الماتريدية فهم يثبتون الأسماء وسبعاً من الصفات هي (الحياة، العلم، القدرة، السمع، البصر، الإرادة، الكلام) ويزيد بعض الماتريدية صفة ثامنة هي (التكوين) وينفون باقي الصفات ويؤولون النصوص الواردة فيها ويحرفون معانيها
Artinya: “Adapun asya’iroh generasi akhir serta maturidiyah, mereka menetapkan asma dan 7 sifat Alloh, yaitu Hayah, Ilm, Qudroh, Sam’, Bashor, Irodah dan Kalam. Sebagian maturidiyah ada yang menambahkan sifat ke delapan, yaitu Takwin. Mereka menafikan sifat-sifat lain dan mentakwilnya serta mendistorsi maknanya.”

Tanggapan:

Kalimat “Mereka menafikan sifat-sifat lain dan mentakwilnya serta mendistorsi maknanya” menunjukan bahwa dalam hayalan wahhabi ta’wil sama dengan distorsi dan penafian terhadap sifat yang ditakwili.  Namun wahhabi tidak mampu dan tidak akan pernah mampu menunjukan satupun ucapan ulama asy’ariyah yang mengatakan bahwa asy’ariyah menolak sifat yang ditakwil.
Realitanya asy’ariyah tidak menafikan sifat yang dita’wili. Mereka hanya mengalihkan makna literal sifat Alloh yang secara zohir serupa dengan mahluk tanpa menafikan keberadaan sifat tersebut. Seandainya mereka menafikan sifat-sifat tersebut, niscaya mereka tidak akan mentakwilnya.
Mustahil seseorang akan mentakwil sesuatu yang keberadaannya tidak dipercayai. Buat apa ditakwil, lha wong keberadaannya saja diingkari kok. Maka ta’wil yang dilakukan oleh asy’ariyah merupakan bukti bahwa mereka tidak menafikan sifat yang dita’wil.
Penting diingat, tujuan dari takwil adalah untuk mensucikan sifat Alloh dari serupa dengan mahluk. Tujuan ini merupakan konsekwensi logis dari pernyataan Alloh dalam Asy-Syuro;11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”
Mungkin ada wahhabi yang bertanya: Jika memang ta’wil bertujuan untuk mensucikan Alloh dari keserupaan dengan mahluk, lalu mengapa asy’ariyah tidak mentakwil sifat bashor (melihat) dan sama’ (mendengar)? Bukankah dua sifat tersebut juga ada pada mahluk?
Kepadanya saya katakan: Sifat sama’ dan bashor -meskipun dimiliki oleh mahluk- namun keduanya bisa dibedakan dengan tanpa ditakwil. Manusia melihat dan mendengar menggunakan alat. Penglihatan dan pendengaran manusia pun terbatas. Berbeda dengan penglihatan dan pendengaran Alloh. Alloh melihat dan mendengar tanpa alat dan tanpa batas.
Untuk mendengar, manusia memerlukan alat berupa telinga yang terdiri dari beberapa elemen seperti daun telinga dan gendang telinga. Mereka juga membutuhkan getaran yang diterima oleh gendang telinga. Frekuensi getaran yang bisa didengar oleh manusia pun terbatas antara 20 hertz sampai dengan 20.000 hertz. Berbeda dengan pendengaran Alloh. Alloh mendengar tanpa membutuhkan alat dan tanpa batasan frekuensi getaran.
Untuk melihat, manusia membutuhkan alat berupa bola mata yang terdiri dari beberapa elemen seperti bola mata, lensa mata, pupil dan kornea. Mereka juga membutuhkan cahaya yang diterima oleh lensa mata. Tanpa itu semua, manusia tidak akan bisa melihat. Berbeda dengan Alloh. Alloh melihat tanpa membutuhkan alat dan cahaya.
Oleh karena itulah keduanya dan 5 sifat lainnya tidak ditakwil. Sebab, tujuan ta’wil adalah untuk mensucikan Alloh dari keserupaan dengan mahluk. Ketika sifat Alloh secara zohir tidak serupa dengan mahluk, maka ta’wil tidak perlu dilakukan. Inilah alasan asy’ariyah tidak mentakwilnya.
Walhasil, asy’ariyah sama sekali tidak menafikan sifat Alloh. Sebaliknya mereka menerima segala apa yang datang dari Alloh dan Rosul Nya. Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki dalam kitab Minhaju Salaf Fi Fahmin Nusus Bainan Nazhriyah Wattathbiq Hlm. 20 mengatakan:
وقد أمنا بما جاء عن الله على مراد الله عز وجل وأمنا بما جاء عن الرسول s
Artinya: “Sesungguhnya kami beriman terhadap apa yang datang dari Alloh SWT atas apa yang Dia kehendaki. Kami juga berimana terhadap apa yang datang dari rosul.”
Beriman pada apa yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya, sama saja menetapkan semua sifat-sifat Alloh yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits, termasuk sifat Istawa, Nuzul, Wajhulloh, ‘Ainulloh dan lain-lain.
Jika demikian, berarti titik permasalahannya tidak terletak pada penafian terhadap sebagian sifat Alloh. Melainkan terletak pada ta’wil. Ini membuktikan bahwa klaim wahhabi adalah tadlis (pengkaburan-red) terhadap titik masalah dan merupakan kedustaan dalam menukil suatu pendapat.

Mengapa kalian melakukan tadlis wahai wahhabiyun? Tidakkah kalian bisa berkata jujur dalam menukil pendapat dan meletakan titik permasalahan dengan benar?

Asy’ariyah Lebih Mendahulukan Akal. Benarkah?


Abu Utsman Faishol Bin Qozar Al-wahhabi, dalam kitab Asya’iroh Fi Mizani Ahli sunah 1/70, berkata:

وأما المتكلمون من الأشاعرة والكلابية وغيرهم فقد انحرفوا في مصدر التلقّي وخالفوا ما أمر الله به ورسوله وما كان عليه سلف الأمة، وهم مع ذلك مختلفون في تحديده، إلا إنه يجمعهم الاعتماد على العقل، فيجعلونه الأساس في تقرير مسائل المعتقد، ويقدمونه على النقل.

Artinya: “Adapun mutakalim dari asya’iroh, kulabiyah dan yang lainnya sesungguhnya mereka telah melakukan distorsi terhadap sumber talaqi. Mereka menentang apa yang diperintah Alloh dan rosul-Nya dan pendapat salaf umat. Bersama dengan itu mereka berbeda pendapat mengenai batasan sumber talaqi. Hanya saja mereka sepakat bersandar pada akal. Mereka menjadikal akal sebagai dasar dalam menetapkan masalah akidah dan mereka mendahulukan akal ketimbang naql.”

Tanggapan:
Saya ingin mengajak anda untuk merujuk kitab aqidatul awam yang menjadi pedoman pengikut asy’ariyah saat ini. Dalam kitab yang ditulis oleh Sayyid Ahmad Marzuqi tersebut ditegaskan bahwa kita harus menerima apa saja yang dibawa oleh Rosul. Pada bait ke 27, beliau berkata:
وكل ما اتى به الرسول # فحقه التسليم والقبول
Artinya: “Setiap hal yang dibawa oleh Rosul, maka berhaq untuk diterima.”
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani ketika menjelaskan bait tersebut mengatakan bahwa hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-qur’an. Itu artinya asy’ariyah menjadikan qur’an dan hadits sebagai dasar aqidah. Dalam kitab Jala’ul Afham Syarhu Aqidatil Awam Hlm. 69, beliau berkata:
من الواجب على كل مكلف إذا بلغه ما أتى به الرسول أن ينتهي ويعمل به وعليه التسليم والقبول لأنه المصدر الثاني بعد كلام الله تعالى
Artinya: “Sebagaian dari kewajiban seorang mukalaf adalah apabila ada hadits dari rosul yang sampai kepadanya, hendaknya ia berpegang dan mengamalkan hadits tersebut. Ia wajib menerimanya sebab hadits merupakan sumber (hukum) kedua setelah kalamulloh (al-qur’an).
Sementara akal hanya merupakan alat untuk memahami qur’an dan hadits. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ghozali. Ulama asy’ariyah priode kholaf ini memaparkan runtutan dasar aqidah asy’ariyah adalah al-qur’an, al-hadits kemudian akal. Dalam Ar-Risalah Al-Laduniyah, hlm. 244, beliau berkata:
وأهل النظر في هذا العلم يتمسكون اولا بأيات الله تعالى من القران ثم بأخبار الرسولsثم بالدلائل العقلية والبراهين القياسية  
Artinya: “Ahli nazhor (nalar-red) dalam ilmu ini (aqidah-red) pertama-tama berpegang dengan ayat-ayat Alloh ta’ala, yakni Al-Qur’an kemudian dengan khobar (hadits) Rosul SAW selajutnya dengan dalil akal dan argumentasi analog.”
Hal tersebut mereka lakukan karena al-qur’an sendiri memerintah kita untuk menggunakan akal dalam memahami ayat-ayat Alloh. Setidaknya ada 49 ayat yang menyinggung soal penggunaan akal serta 19 ayat yang menyinggung masalah berfikir. Di antaranya adalah al-anbiya’:10
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”
Oleh karena itu saya katakan: siapa saja yang mengaku mengamalkan al-qur’an namun menolak peranan akal, berarti ia tidak mengamalkan al-qur’an. Sebab qur’an memerintah agar menggunakan akal.
Ini membuktikan bahwa klaim wahhabi atas asy’ariyah adalah merupakan tadlis (Pengkaburan-red) terhadap titik permasalahan dan merupakan kedustaan dalam menukil suatu pendapat.

Mengapa kalian melakukan tadlis wahai wahhabiyun?!! Tidakkah kalian bisa berkata jujur dalam menukil pendapat dan meletakan titik permasalahan dengan benar?

Monday, 3 February 2014

Kesalahan Fatal Di Balik Buku Harun Yahya? (Inilah Jawabannya)


Memang manusia merupakan tempat salah dan lupa. Karenanya mereka selalu melakukan kesalahan. 

Namun yang paling fatal adalah ketika seseorang menganggap orang lain melakukan kesalahan padahal ia sendiri yang melakukan kesalahan. Hal inilah yang terjadi pada Abu Hudzaifah al-Atsari (Wahhabi) yang mengkritik Harun Yahya (Islam).

Dalam sebuah artikel berjudul “Beberapa Kesalahan Fatal Di Dalam Buku Harun Yahya”,  Abu Hudzaifah mengklaim bahwa pemahaman aqidah Harun Yahya dalam buku berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) mengalami kesalahan fatal. 



















Namun sayangnya, Abu Hudzaifah melakukan kepicikan dalam melakukan kritik. Kepicikan yang ia lakukan adalah ia menjadikan pemahaman wahhabi sebagai standar kebenaran. Kepicikan ini menjadikan ia melakukan kesalahan fatal sebab tanpa ia sadari ia telah menentang Al-quran.

Para recehan wahhabi yang selalu ngaku-ngaku tidak mau taqlid, ternyata mereka beramai-ramai mengikuti (taqlid) pada Abu Hudzaifah. Kontan, artikel yang sama sekali tidak ilmiyah itu di copas oleh para muqolid buta wahhabi. Berikut kesalahan fatal Abu Hudzaifah yang berakibat penentangan terhadap Al-Quran.

Dalam artikelnya ia menukil ucapan Harun Yahya, sbb:
“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all. (EVOLUTION DECEIT hal. 189)

Artinya : “Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”

Menanggapi ucapan tersebut, Abu Hudzaifah memberi komentar, begini:
“Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya.”

Tanggapan saya:
Apa yang dikatakan oleh Harun Yahya bukanlah perkataan kaum shufiyah atau konsep wahdatul wujud. Itu adalah pernyataan Al-Quran. Al-Quran mengatakan bahwa Alloh berada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya berkata: Allah is surely “everywhere” (Alloh berada di mana-mana). Ucapan ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Baqoroh: 115.
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
Artinya: “… maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…”

Al-Quran juga menyatakan bahwa Alloh bersama kita di manapun kita berada. Bukankah ini menunjukan bahwa Alloh ada di mana-mana? Al-Hadid : 4
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Harun Yahya berkata: and encompasses all. (Alloh melimputi segala sesuatu). Ucapan ini sesuai dengan firman Alloh dalam An-Nisa’ 126 dan Fushilat : 54.
An-Nisa: 126
وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا
Artinya: “… dan Allah Maha Meliputi segala sesuatu…”

Fushilat: 54
أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ
Artinya: “…Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

Pada permulaan halaman 190 Harun Yahya berkata: “That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”
Artinya : “Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Menanggapi ucapan tersebut, Abu Hudzaifah memberi komentar, begini:
“Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah.”

Tanggapan saya :
Ucapan Harun Yahya bukan pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah sebagaimana anggapan ustadz wahhabi ini. Sebaliknya ucapan itu sesuai dengan firman Alloh dalam al-quran.

Harun Yahya berkata: “kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita..” Ucapan ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al-An’am : 103
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat penglihatan..”

Harun Yahya berkata: “Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…” Ucapan ini sesuai dengan An-Nisa : 126 dan Fushilat 54 sebagaimana yang tadi saya sebutkan.

Al-quran juga menyatakan bahwa Alloh meliputi orang-orang kafir. Al-Baqoroh : 19
وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Al-Quran juga menyatakan bahwa Alloh juga meliputi perbuatan orang-orang kafir. Hud : 92
إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Sebagaimana yang telah tampak secara nyata bahwa ucapan Harun Yahya telah sesuai dengan Zohir ayat-ayat Qur’an. Dengan demikian maka jelas komentar Abu Hudzaifah adalah keliru, salah, dan batil sebab komentarnya menentang pernyataan Al-Qur’an. Wallohu a’lam.


 
Support : Qosim Ibn Aly | Islamic Defenders Community
Copyright © 2013. Golek Surgo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Aliy Faizal
Proudly powered by Blogger